29 April 2008

Biarkan aku terus berlatih


Usia 30 tahun mungkin bukanlah usia ideal untuk memulai latihan beladiri, walau dulu sekali kira-kira waktu SMP pernah ikut latihan beladiri, itupun hanya ikut-ikutan dan tidak tahan lama. Sudah lama banget kepingin bisa ikut beladiri, malu juga dengan istri karena sudah banyak tumpukan lemak dimana-mana, padahal istri rajin ikut senam dengan ibu komplek. Jadi inget iklan di TV, masih endut sayang ...kek kek kek.

Pulang malam sudah menjadi rutinitas yang tidak mungkin terelakkan. Ditemani motor Mio kesayangan, biasa melewati jalan yang sepi dan rada gelap. Sering ngeper juga hati ini jalan sendirian malem-malem, takut tiba-tiba ada yang nongol dan ihik ...besuk pagi sudah masuk berita Lampu Merah ...ditemukan laki-laki gendut, pendek, putih bersimbah darah tidak pakai pakaian di selokan....alamaaaaak ..jangan deh ya Allah, kalaupun masuk koran yang terhormatlah.


Sampai rumah, badan loyo, keujanan, becek, baju lepek-lepek ...alah capek deeeehh. Kalau sudah begini tenaga mungkin tinggal 20 %, ditambah mata sisa 5 watt doang. Istri yang sudah dandan cantikpun tidak sempat di colek, paling banter kecupan sayang dan langsung zzzzz mimpi indah ketemu bidadari yang lain kek kek kek. Jujur kondisi fisik waktu muda dengan sekarang beda jauh, kerja seharian bener-bener menguras tenaga, secara psikologis rada tertekan dengan istri karena tidak bisa menjalankan tugas khusus kepada istri seperti dulu lagi...sedih ya...

Bertahun-tahun badan ini tidak kenal olah raga, rasanya pingin bisa main bola seperti orang-orang, cuma sering takut dikatain eh bola main bola ...or eh bolanya nambah satu lagi tuh ...or pingin banget ikut beladiri cuman takut dikatain ada kiriman sandsak baru kek kek kek ..Tapi bagaimanaupun walaupun dan apapun yang terjadi saya bertekad ingin olah raga khususnya beladiri apalagi setelah baca artikel dari majalah Matra, yang membahas tentang faktor penyeban utama istri selingkuh adalah kekecewaan kepada suami karena faktor X tersebut ...alamak jangan sampai terjadi kepada saya dan keturunan saya ...naudzubillahi mindzalik 33 x

Once upon a time ada acara pertemuan warga komplek, saya ketemu dengan seorang Bapak yang sepertinya seusia or diatas saya sedikit, tapi badannya bro…masih keliatan apik, tipe cowok metroseksual gitu. Dan secara mengalir saya tahu beliau aktif di beladiri yang namanya Thifan. Wah ketemu orang yang pas nih, secara singkat saya langsung pingin ikut latihan dengan beliau, tapi sama beliau diminta suruh ngeliat dulu, cocok or tidaknya. Dengan tekad bulat dan bekal dorongan istri saya datang ke tempat latihan, dengan sabar saya melihat proses latihan. Mulanya biasa saja tapi lama-lama kok latihannya jadi seleeeeeemm pakai ditendangan, dipukulin, aduh maak bisa langsung kempes tanpa sarat badan aye nih ...Jujur saat itu saya pingin langsung pulang dan gak berani datang lagi ke tempat latihan Thifan. Tapi untungnya tetangga saya itu bilang, jangan khawatir karena latihanya berproses, untuk yang baru tidak akan langsung seperti itu, dan disarankan langsung ketemu pembimbingnya agar dapat pengarahan yang lebih detail....Subhanallah dari penjelasan beliau ternyata Thifan Po Khan bukan hanya sekedar olah raga, tapi merupakan beladiri plus ..plus ibadah. Niat musti dilurusin dulu, baru nanti hasilnya baik...

Tak terasa sudah setahun latihan aku jalanin, awalnya berat banget. Setelah latihan pertama hampir seminggu saya tidak bisa bergerak, badan rasanya kaku dan sakit. Tapi syukurlah dikaruniai istri yang sholehah jadi cepet sembuh kek kek kek. Dari banyak senam dan jurus yang saya pelajari banyak sekali yang belum saya kuasai dengan baik. Pukulan masih berat dan lemah, tendangan belum berbentuk, senam juga masih kacau, walau demikian ada satu hal yang saya rasa beda, yaitu badan terasa lebih bugar dan ”bertenaga” tanpa harus minum suplemen penambah tenaga kek kek kek

Jalan masih panjang, sekarang masih tingkat satu, kalau mau selesai berarti masih ada 12 tingkat lagi...mampu tidak ya aku....harapanku sekarang untuk pembimbing Thifanku dan temen-temenku yang sangat baek, biarkanlah aku terus berlatih, temenin aku dan bimbing aku dengan ketulusan hatimu.

Salam persaudaraan dari hati yang terdalam.


- Tamid yang malu disebut namanya-

[+/-] Selengkapnya...

28 April 2008

II. Uman Bathar

Maka adalah Uman Bathar itu seorang akhli Thifan terkenallah pula ia pandai mengeluarkan daht dingin peracun ia pernah bertegah dengan seorang pendekar bertenaga naht dengan nahtnya itu ia hunus pedang maka terhunuslah pedang dari sarungnya itu tiada berputus sampai berdepa-depa panjangnya itu, maka Uman Bathar pun berjabat tangan dengan pendekar naht itu lalu disalurkannya daht dinginnya itu sehingga aklhi naht itu meraung-raung kesakitan maka menyerahlah ia dengan menggigil agaknya seumpama mandi salju atau terkubur dalam gunung salju.

Syahdan ia empunya seorang puteri Lulu Ting namanya yang diangkat sebagai anak angkat Onuqkhan. Konon Lulu Ting itu terkenal dalam permainan selendang bersaluran daht itu dan Lulu Ting pernah berguru akan Khadeja Khamat, ia pernah ikut dalam perang di garis belakang, maka ia biasa merebut pedang lawan dengan selendangnya itu, maka adalah Uman Bathar pada akhir hidupnya itu sebagai bendahara raja Onuqkhan itu.

[+/-] Selengkapnya...

HIKAYAT PENDEKAR URWUN : I. Liqud Ahmed Urwun


Maka adalah Liqut Ahmed Urwun itu seorang bangsawan dari lanah Taesyukhan, sangatlah terkenal dan sangat mengagumkan khalayak ramai akan segala ihwal ilmu pembelaan dirinya itu, ia pernah memimpin penyerangan ke Kifen, terkenallah ia karena pukulan panasnya dan tendangan dinginnya itu, maka apakala terkenallah akan tendanagn dinginnya itu maka musuhpun sakitlah seluruh tubuhnya yang meresap masuk sampai ke pngkal tulang seumpama tulang itu direndam pada salju juga.

Maka adiknya itu bernama Syatib Urwun berkeistimewaan dalam olah peringanan tubuh, sekenak tamid pernah saksikan tatkala Syakib Urwun melintasi akan sungai yang pada lebarnya lalu dilompatinya sungai itu dengan mempergunakan daya tekan air. Maka tatkala ia ada di rumah tumpang di Kraitstsna ia pernah didatangi seorang perampuk bertubuh besar tetapi Syakib Urwun cepat mengelak dan ditendangnya perampuk itu dengan tendangan yang amat dahsyat sehingga terpelantinglah perampuk itu.
Maka Liqut Ahmet Urwun dan Syakib Urwun itu pernah berlatih dalam lanah itu bertahun-tahun.

[+/-] Selengkapnya...

17 April 2008

HIKAYAT SELIM TSEPANG

Maka tersebutlah seorang bernama Tsefang atau Selim Tsepang, ia datang dari pegunungan arah utara, ia seorang anak kepala suku dan sejak kecil ia telah ada terlibat dalam perkelahian dengan suku-suku pengganas yang datang hendak merampuk perkampungannya. Maka ia masuk lanah dan belajar menkaji ilmu Islam dari seorang ahund bangsa Persia, karena itu iapun fasih dalam bicara Persia itu.

Alkisah ketika terjadi dinegerinya pemberontakan untuk menggulingkan Khan Emiruddin maka ia ditawari orang untuk mengepalai pemberontakan itu karena raja itu kurang disukai dan terlalu membuang-buang segala harta untuk kesenangan dirinya sendiri. Maka pada masa itu Selim Tsepang telah mewakili ahund akn kerajaan lanah itu.
Maka Khan Emiruddin pun turun tahta dan diserahkannya segala kekuasaannya itu pada Sultan Syirajuddin, maka Khan Emir pun bertaubat dan menjadi seorang dermawan. Maka Sultan Syirajuddin pun memerintah dengan bijak, alim dan adil sengat eloklah pemerintahannya itu.


Maka usia sultan itu tiada lama, ia menderita penyakit dalam sehingga ia meninggal dan saudaranya Zhoqnu yang lalim menggantikan kedudukannya itu maka iapun menarak tanjak dalam kemewahan diri tiadalah arah fakir untuk memperhatikan khalayak ramai sehingga musyarakatpun tertindaslah, pembesar-pembesar istanapun mulai mengikuti jejaknya itu, maka rusuhlah seluruh negeri itu, permpukan, perampasan, pencurian bersimaharajalela.

Maka khalayak ramaipun menantikan penghulunya untuk meletupkan pemberontakan itu lalu seorang terkemuka diantara mereka itu memohon akan Selim Tsepang tetapi ia tengah beristirahat karena serangan suatu penyakit, maka merekapun memilih Mukhtar Bubod suami Azizah Tedsyu puteri sulung Selim Tsepang itu untuk meletupkan pemberontakan itu maka Mukhtar Bubod pun bersiap pepak berpilih membentuk asykar maka apakala diketahui pembesar istana akan segala persiapan pemberontakan itu, maka asykar negeripun lalu segera hendak menghancurkan kekuatan pasukan Mukhtar Bubod itu maka terjadilah perang perebutan negeri, maka Mukhtar Bubot terkundak dengan mempermainkan dua bilah pedang diatas kuda dan ditewaskannya beberapa orang pengawal kerajaan itu, tetapi anak panah menghujani tubuhnya sehingga ia seumpama terpanggang seribu panah lalu iapun mengamuk menyerbu ketengah ambang istana sehingga ia terkungkung tetapi terlalu banyak darah itu keluar, Mukhtar Bubot pun robohlah maka reduplah pemberontakan itu, maka pemberontakpun pergi berkuda ke perbatasan Katan.

Maka ibu negeripun dianggap amanlah sudah segala orang yang dianggap perusuh itu telah pergi, maka sultanpun kembali naik bermegah dan berpoya-poya maka apakala dilihatnya kecantikan janda Mukhtar Bubot itu iapun jatuh berahi maka istri keempatpun dicerankannya dan dipinangnya gera Azizah Todsyu itu tetapi utusan sultan ditolak Selim Tsepang sehingga murkalah sultan dikirimnya asykar yang kuat-kuat untuk menangkap semua keluarga itu tetapi semua asykar yang dikirimkan untuk menangkap keluarga itu tidak kembali, maka keistimewaan Selim Tsepang itu dapat menaklukan musuh dengan teriakan suara berdahtnya.

Maka dikirimkannya pula pasukan asykar yang berjuak kira delapan puluh orang, maka kala Selim Tsepang lengah dipanahnya arah lehernya itu olh seorang pemanah yang terlalu amat akhli dalam bermain panah ialah Eayzit yang pernah berguru akan Selim Tsepang itu, maka Selim pun tiadalah dapat menyalurkan suara dahtnya itu sehingga ia beserta seluruh keluarganya itu terbunuh walaupun ia telah menewaskan beberapa orang asykar kerajaan itu maka tertangkaplah Azizah Todsyu dan dipenjarakan dalam istana tetapi asykar Babur menyelamatkannya dan konon ia diperistri salah seorang penglima itu dan dibawanya ke Penshab.

Sahdan adalah dua orang tamid Selim Tsepang itu dapat menyelamatkan diri apakala dilihatnya gurunya itu roboh ia belum lama berdiam dikeluarga itu dan belumlah ia diberi dasar ilmu perkelahian seorang anak bangsawan Farkhabeg namanya dan seorang orang kebanyakan Fuli Ramli namanya.

Maka keduanyapun pergi meninggalkan tanah itu lalu bergurulah pada Cundunt akhli Thifan itu yang terkenal dapat mengalirkan racun panas sehingga orang pencoba akan dia jatuh kesakitan. Maka apakala selesailah mereka menuntut ilmu itu sembilan tahun lamanya maka pulanglah mereka berkuda.

Sanya pada suatu hari suku-suku Hun Tenggara menjelaknya dalam perjalanan itu dengan menghujani anak panah tetapi kedua orang itupun pandailah dalam ilmu permainan langkah dan rahapan maka hanya dua batang anak panah mengoyakan bajunya itu.

Pada suatu hari lewatlah keduanya itu pada sebuah kota kecil yang diperintah Zocnu itu, maka kedua orang itu bersua Bayzit diujung pekan tengah berkuda tunggang putih dan berpakaian sutera tebal sepatunyapun berhiaskan emas, setanda ia menjadi seorang pembesar istana.

Maka apakala kuda Bayzit itu berkelok dan menuju keluar kota itu, maka Farkhabeg dan Fuli Ramli pun memacu kudanya mengikuti Bayzit sehingga sampai akan sebuah perkampungan lalu ditinggalkannya perkampungan itu sampailah kepadang rimput, maka Bayzit menuju sebuah tempat dipadang rumput itu, Fuli Ramli lalu memacu kudanya dan mengejar Bayzitdan terpalanglah kuda Fuli Ramli itu dihadapan Bayzit maka Bayzit menyangka itulah perampuk, maka ia hendak melepaskan anak panahnya, apakala anak panah itu hendak melepas, Farkhabeg pun datanglah akan tempat itu demi dilihatnya Bayzit hendak melepaskan anak panah itu, maka Farkhabeg pun melepas jarum syit beracun akan tangan Bayzit itu sehingga busurpun jatuh, maka meradanglah Bayzit dan berteriak minta bersabung nyawa, tetapi tubuhnya mulai lemah dan tak lama kemudian robohlah mungkin racun syit telah menjalar akan seluruh tubuhnya itu. Maka berkatalah Fuli Ramli: “Itulah kisas bagi keculasanmu membunuh gurumu demi emas rajamu itu” maka cepatlah keduanya melanjutkan perjalannya kearah timur melalui bukit-bukit dan menuruni pada bagai lembah yang curam, maka sampailah pada kawasan benua Cina, maka banyak peristiwa dialaminya kala mereka berkelana itu, maka pada suatu hari manakala keduanya itu turun jenjang sebuah lepau dimuka pekan besar bersualah dengan seorang pendekar Mung yang disebut pendekar pengemis dari Shorim, maka ketika pendekar itu melihat keduanya maka ia mencahari jalan perbincangan, karena mereka mungkin hafal akan ciri-ciri tubuh dan pakaian kedua orang asing itu, bahwa itulah pendekar, lalu stelah bersapa ketiga orang itupun duduk berbincang-bincang lalu sampai pada peri agama, kehidupan dan ilmu pembelaan diri, maka kedua sahabat itu semula menyebunyikan ilmunya itu, tetapi pendekar pengemis itu memaksa untuk turgul, katanya: “Aku ingin mengetahui akan segala gerakanmu itu aku sanya hendak mencahari keaslian Shorim itu, ketahuilah sanya kitab ilmu Shorim itu telah terbakar dan kami mengkaji dari anak wihara yang hafal tetapi kami sendiri ragu akan kemurnian ajaran pembelaan diri itu, maka dengarlah kubawakan sebuah tamsil: Adalah sebatang pohon ara raksasa yang tengah menanti tumbang karena dibawah pohon raksasa itu berkerajaanlah anai-anai yang berjuta-juta dan memakan segala akar pohon ara raksasa itu, maka suatu ketika berpuputlah angin dahsyat menumbangkannya dan tatkala itu ada seekor kubin hinggap dan melekat pada batang pohon itu, maka berkatalah Kubin: “Kucegahkan maka tumbanglah.” Kata Fuli Ramli: “Bukankah itu tamsil orang turki.” Maka kata pendekar pengemis: “Turgullah lalu kujelaskan.”
Maka turunlah Fuli Ramli lalu bersyikla hendak ancang berancang, maka terperanjatlah pendekar Mung itu ia menitikkan air mata lalu ia pergi dengan tiada mengucapkan sepatah katapun.

Maka Farkhabeg lepas meninggalkan negeri Cina itu pernah berguru akan Halat tahid dari Muhyiddin orang Fangkhan, ia seorang akhli timbangan daht, bila ia diserang ia hanya menghindar, musuhpun selalu mencium tanah, Halat pernah berpesan: “Biarkan mereka kehabisan tenaga dan kita harus mempunyai simpanan tenaga itu.” Maka Halat pun berceriteralah tentang gurunya itu katanya: “Maka adalah Muhyiddin Fangkhan itu seorang akhli timbangan daht ketika ia menuju Fuk tercegahlah oleh sepuluh orang perampuk bersenjatakan keway beracun, tetapi ia sangatlah mahir bermain langkah hinder sehingga sebatang kewaypun tiada melukai tubuhnya itu, maka suatu ketika ia tengah duduk di masjid lepas zhuhur, tiba-tiba terbitlah kerusuhan dan seorang perusuhpun melemparkan sebatang pisau kepadanya maka Muhyiddinpun tiadalah berdiam diri, dengan cepat dialapnya pisau itu dengan dua batang jarinya lalu iapun melemparkan kembali pisau itu sehingga perusuh itupun tertikam dan robohlah sudah.
Maka emir kota itupun menganugerahkan uang mas kepadanya, sanya Muhyiddin apakala berpergian selalu bertunggang kuda karena kaki kirinya itu ada lebih pandak maka terkenallah ia pendekar pincang tetapi pada suatu ketika ia rekepung perampuk dirumahnya itu, maka ia keluar dengan menendang pinti dengan kaki pincangnya itu sampai pintu itu terbelah empat dan perampuk itupun larilah merta.

Maka Halat pun berceritera pula tentang pendekar suku Shldsyuk yang berkembara ke barat Asaduddin Syirakuh namanya sehingga ia masuk negeri Mashir. Maka ia datang dengan sega pendekar dan asykar orang Saldsyuk itu ke Syam lalu memerangi kaum Nasara di Masir dan sekitarnya ia terkenal sebagai seorang penakluk, maka sanya anak saudaranya seorang berdarah Kurdi ia angkat menjadi sultan Masir itu. Maka adalah konon kekuatan Syirakun itu pada kepalan mautnya itu, ia konon pula akhli Shurulkhan.”
Maka Halat pernah mengajak kedua anak muda itu ziarahi kuburan Jauharuddinkhan. Maka kata Halat itu: “Maka Jauharuddinkhan itu berbakat pembelaan dirinya itu sejak kecil sehingga mahirlah dalam pelbagai jenis ilmu pembelaan diri ia bertahun-tahun dalam lanah, kemahirannya yang tampak ialah kaki berbaling-baling bila kena dada lawan pecah belahlah. Maka seorang tamidnya itu sahabatku, Tsu Kapay Tiymur namanya ia seorang puak Krait Muslim ia lahir di daerah Bukhara lalu berkembara kea rah tenggara maka ia seorang akhli Taesyukhan.

Alkisah manakala ia berhadapan dengan seekor sapi gila di Sanyu, maka dipukulnya kepala sapi itu sampai pecah, maka emirpun mengangkatnya sebagai pengawal dan ketika emir itu meninggaliapun diangkat emir karena ialah menatu emir itu.”
Maka alkisah Farkhabeg dan Fuli Ramli pun pulanglah ke kampong halamannya itu.

[+/-] Selengkapnya...

HIKAYAT NANA FUN

Alkisah tersebutlah seorang kuat perkasa Abay Lo namanya, ia terlibat dalam suatu pemberontakan kepada Hulagukhan, tatkala pemberontakan itu gagal maka Abay Lo pun tertangkap lalu dibawa kehadapan Hulagukhan itu, maka bertanyalah Hulagukhan kepada penghula asykar: “Siapakah nama tawanan yang bertubuh seumpama babi itu?” sahut penghulu asykar: “Dia orang Tatar ia Abay Lo tuanku.” Maka bertanyalah Hulagukhan kepada Abay Lo: “Hai orang Tatar engkaukah yang hendak berontak kepadaku? Sanya engkau serupa dengan tabiat binatang pengganas, hai menengadahlah engkau, apakah engkau hendak tidur sendiri atau engkau tidur bersama kawanmu?” maka sahut Abay Lo: “Perkenankanlah patik tidur bersama kawanku itu.” Maka titah Hulagukhan itu: “Baiklah engkau boleh tidur dengan kawanmu itu, kawanmu baharu tertangkap ditempat jauh lalu dibawa dengan kereta kuda dan kupenjarakan, tidurlah dengan nyenyak bersama kawanmu dan sebangsamu itu.” Maka dimasukkanlah Abay Lo kedalam kandang harimau benang seumpama harimau benggala layaknya maka harimau itupun segera menyerang Abay Lo itu tetapi abay Lo ada berpelewat menghindar dan dimasukkannya tebasan yang dahsyat akan arah rahang harimau itu sehingga hancur dan mati seketika. Maka Abay Lo merusakkan penjara itu dan ia pergi dengan tak peduli. Maka titah Hulagukhan: “Biarkanlah ia pergi” apakala kira empat layangan damak, maka Hulagukhan bertitah: “Hai kemarilah orang Tatar” maka Abay Lo pun menghampirinya, maka titah Hulagu pula: “Hai Abay Lo aku kagum akan segala keperkasaanmu itu kuharap engkau memperbaiki niatmu terdahulu itu, mahukah engkau berdiam diistanaku ini.” Maka sahut Abay Lo: “Ampun tuanku, dahulupun hamba hanya terbawa-bawa, tuanku dan segala titah tuanku akan hamba setukan.” Maka berdiamlah diistananya itu dan Hulagu yang tengah tua itupun jatuh sakit lalu meninggal, maka beralihlah dan turunlah akan kekuasaannya itu lalu seorang keturunannya itu telah Islam.
Maka alkisah seorang keturunannya itu bernama Zahiruddin yang bergelar Baberkhan raja harimau. Ia datang dari sebuah dusun dan sempat menjadi raja di Fergana ia seorang akhli Shurulkhan Kuna ia terkenal pandai meremas usus lawan sampai terjulur keluar maka takutlah raja-raja sekeliling akan dia iapun segera membentuk asykar yang kuat dengan pakaian copang-camping asykarnya itu menyerbu Gazni, Ghur, Penshab dan masuk ke Hindustan maka segala upaya asykar gabungan raja-raja Hindustan tiadalah berguna, maka Baberkhan merupakan raja Mogul yang pertama di Hidik yang berigama Islam maka dibentuklah diwan-i-syar’i, maka akan hal ihwal keberaniannya dan kepandaiannya itu diceriterakan orang dari mulut ke mulut.


Maka adalah saudara sepupunya itupun tetap di daerah utara dan ia mendirikan sebuah kerajaan kecil di arah utara Fergana itu tetapi tak lama kemuadian beralih kearah barat.
Maka alkisahlah cucu raja itu bernama Zahiruddin pula ia memerintah tanah Gayin, maka terkenallah keponakannya itu seorang puteri pendekar Nana Fun namanya atau biasa dia panggil puteri Funa ia pernah berlatih Syufu Taesyukhan pada Yuikhu lalu pada Shu Fawan.

Maka adalah Yuikhu itu seorang akhli Taesyukhan ia suka berpesai laku berpesiar menjelajahi negeri-negeri yang jauh dan ia pernah berdiam diistana raja Zahiruddin di Gayin itu, maka tamid-tamidnya itu terlalu amat banyak dan merekapun telah ada sebahagian mendirikan lanah.

Maka pada suatu hari tatkala matahari condongmeleku barat ia tengah berkuda di utara tanah Gobi tiba-tiba kudanyapun pegah dipegang penghulu perampuk samun,lalu turunlah Yuikhu menghampiri mereka semula timbul perbincangan keras yang berakhir dengan perkelahian, maka enam orang penyamun itu mati tetapi kepala penyamun itu berlindung akan sebuah batu pedah, maka Yuikhu menghampiri batu itu lalu dipukulnya sampai hancur dengan kelengkapannya dahtnya itu sehingga penyamun itupun agak bergigil ketakutan lalu berjanjilah kepala penyamun itu hendak membuang segala kelakuannya yang buruk itu, maka Yuikhu termenung diatas bukit memperhatikan penyamun itu pergi.

Maka adalah Shu Fawan itu seorang keturunan Cina dan Tatar ia dating berkuda dari arah timur Gayin ia turun dari sebuah bukit menjara sebuah kubu perusuh yang berontak akan kawasan raja Zahiruddin itu, perusuh itu Safwat namanya.

Maka turunlah Shu Fawan bertanya akan orang kampong itu: “Hai sahabat, kenalkan aku pada Safwat itu aku ingin berbincang dengan dia dalam persoalan darah.” Maka orang kampung tengah berdiang pada api itu mencemoohkannya, kata seorang diantara mereka itu: “Cis terlalu berbual mulutmu itu tahukah engkau siapapun tidak boleh menghadap kecuali seorang pembayar upeti.” Maka kata Shu Fawan pula: “Hadapkanlah aku kepadanya aku hanya menginginkan tengkorak kepalanya itu.” “Gila kamu.” Lalu Shu Fawan pun hendak dibunh mereka, tetapi Shu Fawan memutarkan toyanya yang berdaht sehingga mereka mabuk muntah darah.

Maka seorang kampung itu lari pada Safwat itu ia berkabar tentang seorang penunggang kuda yang sangat aneh, maka Safwat tengah duduk diatas kursi gading gajah berlapis mas, maka demi dilihatnya ada seorang berkuda datang, maka Safwat pun mengambil seruling sihirnya itu, lalu ia salurkan naht sambil berbaca-baca, konon seruling itu pusaka nenek moyangnya karena ia seorang keturunan Zenghizkhan yang pula ingin berkuasa penuh. Maka Shu Fawan langsung mendekatinya dan tiadalah bunyiseruling itu menyebabkan muntah darah, sega asykarnyapun hairanlah, lalu Safwan bertepuk, maka sepuluh asykar datang menghadang Shu Fawan itu, tetapi semua asykar itu mencium tanah, lalu Safwat pun puput pula serulingnya itu tetapi tiadalah lut hanya beberapa orang asykar kena pengaruh sehingga bergetar. Maka Safwat pun hunus pedang hulu emas melompatlah Safwat dengan ayunan pedangnya tetapi pedang itu terlempar tahikah toya, maka kata Safwat: “Turunlah hai bedebah mari berturgul aku kalah atau kamu kalah.”Maka turunlah Shu Fawan itu timbulah perkelahian dengan tangan kosong, maka segala ilmu Safwat tiadalah mencederai Shu Fawan itu karena kelincahan yang tiada tara itu dan ia selalu berkelahi dengan penuh tawa seumpama tengah main-main juga.
Maka tertangkaplah kepala Safwat itu lalu diputarnyalah kepala itu sehingga terlepas putus darahpun memancarlah, maka Shu Fawan itupun berkatalah akan segala penyaksi itu katanya: “Gantilah rajamu aku akan bawa kepala rajamu ini yusak untuk bukti.” Maka bertanyalah hulu balang: “Siapakah tuan.” maka Shu Fawan itu: “Akulah Shu Fawan.” maka iapun naik kuda tunggangnya kembali.

Maka sejak itu kampung itupun amanlah sudah dan segala pemerasan tiada terulang kembali, mereka selalu menanti-nanti kedatangan Shu Fawan kembali segala ceriteranya menjadi turun temurun. Maka Shu Fawan menyerahkan kepala Safwat itu kepada Zahiruddin.

Maka Nana Fun menkaji segala ilmu yang diajarkan Yuikhu dan Shu Fawan itu, maka apakala teranggap padalah bagi seorang puteri maka kedua pendekar itu seorang ke barat, seorang pula ke timur keduanya berlambai tangan dan sanya tiada bersua kembali. Maka Nana Fun terkenallah pandai menyalurkan tenaga daht peracun pada pedang maka dibentuklah pasukan Tureyt Lulu yang berarti Pasukan Mutiara Biru untuk menjaga puteri-puteri istana itu, maka karena terlalu amatlah Zahiruddin mencurahkan kasih sayangnya akan puteri itu. Tuan permaisuri mencekap segala dendam kesumat akan puteri Fun itu sehingga terasalah bahwa ia sangat dibenci oleh permaisuri itu, lalu ia serahkan kepemimpinan Mutiara Biru itu akan adik permaisuri dan iapun mundurlah dan tiada mahu berdiam dalam istana itu maka Zahiruddinkhan pun buatkan untuknya sebuah tempat tinggal yang indah.

Maka pada suatu hari pergilah Baginda Zahiriddinkhan itu berperang ketanah Ghuri maka terbukalah niat tuan permaisuri itu. Lalu ia panggil seorang hulubalang istana dan hulubalang itu bersaudara dengan tuan permaisuri itu dan dibisikannya maksud jahatnya itu maka dicaharilah dan diada-adakannya kesalahan untuk tuduhan akan Nana Fun itu lalu dijadikannya alasan mengapa ia keluar dari istana itu, maka tuan permaisuri memanggilnya dan diadilinya sendiri akan Nana Fun itu maka Nana Fun menyangkal segala tusuran itu tetapi sia-sialah karena tuan permaisuri sangat berkuasa sebagai wakil raja, maka permaisuri pun memarahinya dan memanggilnya pelebaya segera, lalu pelebayapun datang, lalu permaisuri menggunting rambut Nana Fun yang panjang itu, Nana Fun hanya menangis sambil bertekuk lutut lalu tangannya diikat dengan selendang dan pelebayapun memenggalnya maka darahpun membasahi permadani yang indah itu.
Maka Nana Fun dikuburkan pada kuburan biasa bukanlah pekuburan orang-orang bangsawan.

[+/-] Selengkapnya...

15 April 2008

HIKAYAT AZAIR SYUN

Maka alkisahnya ada seorang penjaja pedagang Cina ia selalu membawa barang niaga itu pada punggungnya maka seorang berbisik di pekan itu maka katanya: “Dialah Azair Syun pendekar orang Syati.”

Sanya Azair Syun itu seorang pedagang yang ramah tamah, ia pandai berniaga, kecerdasan otaknya itu terpuji pada masa kecilnya ia bodoh dan nakal ia pernah belajar di lanah orang Syuti tentang Tae Syu Khan hanya dikeluarkan dari lanah itu karena terlalu nakal dan bodoh.

Maka ayahnya menyuruk akan dia itu berniaga, adakalanya seorang dua hendak berguru kepadanya tatepi ia selalu menolak katanya dengan halus: “Saya ini bukan guru, saya seorang bodoh dalam pendidikan belajarlah pada tuan guru itu.” Maka disuruhlah orang itu belajar kepada orang lain.


Maka ia tidak empunya seorang tamidpun bahkan anak-anaknya sendiripun enggan belajar kepadanya apalah pula ada kabar-kabar angin tentang dia itu.
Maka ilmu perkelahiannya itu tiadalah ia turunkan. Maka pada suatu ketika ia menjajakan berang niaganya itu akan sebuah pekan di kota kecil Cuhayt. Maka kala ia jajakan itu datanglah empat orang penyamun menilik akan pakaian pentingkahnya itu mereka adalah orang Cina Utara, maka keempat penyamun itu segera memilih-milih dagangan itu lalu ia hendak merampas pula uang Azair Syun itu, semula Azair Syun biarkan kelakuan mereka itu, lalu katanya: “Pilihlah barang yang tuan sukai lalu bayarlah seharga barang itu tetapi uang yang tuan pegang itu uang saya, mungkin tuan salah ambil.” Maka keempat penyamunpun terlalu amat marahnya lalu dihunusnya pedang tetapi kala pedang itu mereka tebaskan dan bersabunglah pedang itu diatas rahapan kepala Azair Syun itu, lalu riwayatnya semua pedang penyamun itu dan dirawatnya pula keempat orang penyamun itu sehingga semua roboh, maka dapatlah ia ketahui bahwa seorang diantara penyamun itu asykar kota itu.

Maka alkisah Azair Syun pun dihadapkan akan pengadilan dikota kecil itu, maka hakimpun kala memeriksa selalu menyalahkan dia dan perampas itu ia sebut sebagai pengawal kota, lali timbullah perbantahan dan membawa-bawa Islam dan tengah menghina Islam itu, maka Azair Syun menoleh dan dilihatnya dia hanya dijaga oleh dua orang asykar, maka dengan cepat ia rawat kedua asykar itu lalu ia rentahkan, maka orangpun ribut tetapi semua pedagang itu ingin membantu Azair Syun itu tetapi mereka berteriak-teriak. Lalu hakimpun bangkit hendak mencabut senjata keway beracun itu, maka Azair Syun langsung menampar hakim itu sampai terbalik kepalanya, ia pergi dan tiada seorangpun yang menghiraukan dia.

Maka rusuhlah kota kecil itu dan asykar berbantah dengan asykar dalam kerusuhan itu raja kotapun beberapa orang asykar melarikan diri, tatkala itu Timur-I-Lang mulai menduduki kota kecil itu, tetapi Azair Syun tidak memperdulikannya.

[+/-] Selengkapnya...

14 April 2008

HIKAYAT TIMUR LATEP BABER

Maka inilah keringkasan Tatar Namah tentang dia. Maka hal ihwal yang terkabar itu hanya keanehannya dan kehaibatannya itu maka kelengkapan riwayat hidupnya itu tidak tertulis hanya ia seorang puak Mongol muslim ia seorang ahund dan seorang pendekar. Maka pekerjaannya itu mengembara ia pernah berperang untuk kemuliaan sultan Saldsyuk.

Konon ia seorang yang tak terkalahkan dan ada disebut dalam kitab syiiran Tatarc Namah dan ia penatak ilmu Shurulkhan kuna semasa shurulkhan belum ada perpecahan itu.
Maka pada masa pengembangan kekuasaan saldsyuk itu ia menjadi asykar melewat ke babat ke Armenia dan Rum.


Alkisah tatkala ia memerangi suku Mo’I penyembah akan api dan berhala itu dekat perbatasan gunung Uwlag ia terkepung pada sebuah lembah Barkul namanya lalu Baber pun mempermainkan toya kait dengan kelengkapan dahtnya itu maka empat puluh orang musuh tewas walaupun hanaya kene goresannya itu.

Maka dalam kabar lancung apakala Baber itu marah ia dapat memukul dengan toya sejauh semil apakala musuhpun terlelu amat berkobar amarahnya itu.

Maka konon Baberpun pernah berperang untuk puak orang kurdi sehingga ia mendapat kemenangan.

Maka akhir kehidupannya siapakah anat istrinya ia tiada terkabar ia hanya dipuji dalam Tatar Namah sebagai pendekar tak terkalahkan ia pengembara dengan kuda putihnya itu

[+/-] Selengkapnya...

HIKAYAT KHALEDA BATHAR

Syahdan Khaleda Bathar itu seorang puteri Mongol ia seorang puteri pendekar ia anak seorang tabib pendekar dan seorang alim; maka tatkala terjadi perang Fuk yang kedua dan daerah orang Fuk itu diserbu bangsa Krakit penyembah berhala, masjid itupun hampir direbut bangsa Krakit penyembah berhala itu, maka ayah Khaleda Bathar terbunuh lalu orang-orang Fuk yang mendapat luka itu dibawa kekemah dan dijaga akan segala perempuan, manakala asykar Fuk terdesak, maka menyerbulah suku Kraitijar ke kemah itu, maka Khaleda Batharpun mempertahankan kemah itu ia cepat menepik asyakar akan segala asykar perancanmg tamid itu berbantuan pendekar lanah dan segala sisa asykar Fuk berhari-hari dan adalah mayatpun berguguran menyempang adalah kabar akan asykar Turki lalu asykar Turki pun membantu asykar Fuk itu.

Maka tersebutlah panglima bangsa Krait Zuglag namanya, ia jatuh berguling kudanya kena peluru meriam Turki, lalu Zuglag menghadapi Khaleda Bathar dimuka kemah itu sehingga pedang Zuglag pun patah lalu Khaleda pun melemparkan pedangnya itu maka dengan sapuan kaki gasing, Khaleda pun dapat merobohkan Zuglag itu terampang akan tulang pelipisnya itu maka ia pingsan dan tertawan orang Fuk, maka bercerai berailah tentapan Krait itu maka sebahagian perusuh itupun lari berpacu kudanya.


Alkisah apakala Zuglag itu tertawan dan ditaruh akan sebuah ruang dekat masjid dan ia tertarik akan keramahan orang Fuk walaupun musuh diobatinya juga maka ia menyatakan masuk Islam maka seorang beliapun anak sulungnya itu masuk pula Islam dengan segala ketaatannya lalu ia lekarkan pundi-pundi uang mas itu dan suruhlah sekalian membuat sebuah masjid baru yang terukir lalu diserunya orang-orang Krait yang berbatas dengan orang Fuk itu agar masuk Islam maka sebahagian mereka pun akhirnya masuk pula Islam, syahdan Khaleda Bathar pun menikah dengan Abdurahman Uray putera Zuglag itu yang pernah menuntut ilmu kepadanya dan semula ia bernama Tsentsi Khan.

Makasanya ayah Khaleda Bathar yang ikut berperang itu terbunuh pula sanya ayah tirinya hanya masih saudara sepupu ayahnya itu, maka ayah asli Khaleda pun telah terbunuh pula, demikian kisahnya: maka adalah seorang tabib terkenal Saman Bathar namanya ia dipanggil untuk mengobati kepala suku, maka apakala tahulah dia akan penyakit kepala suku itu iapun pulang untuk mengambil obat, maka tatkala ia akan mendapatkan kepala suku kembali seorang utusanpun datang untuk mengambil obat itu, utusan itu seorang pendengki maka ditukarnya obat itu dengan darah seekor yak yang dibubuhi racun, maka apakala diminumnya obat itu ia mati seketika lalu utusan itu memfitnah tabib Saman Bathar itu, maka putera kepala suku itupun marahlah dan dipanggilnyalah segera tabib itu, apakala ia hendak naik janjang datanglah seorang asykar dengan pedangnya itu Saman Bathar itu dipenggal dan kepalanyapun jatuhlah. Maka Khaleda Bathar pun berayah tiri yang miskin maka ia setiap hari ia bekerja bersama dua orang saudaranya itu menjajakan obat-obatan itu, tatkala terdengar akan kecantikan Khaleda itu akan Timur–I–Lang maka ia dipinangnya tetapi ia menolak maka asykarpun menyerbu rumahnya kedua saudara laki-lakinya gugur dan Khaleda bersembunyi diantara mayat saudaranya itu kemudian ketika asykar berlalu dan memperlindungkan diri ke lanah Thifan ia diangkat anak oleh ahund yang tak beranak itu. Maka tiadalah lama ia diam pada lanah itu karena adanya terbunuh karena difitnah itu, maka ia berdiam bersama ibu dan ayah tirinya seorang alim dan tabib serta pendekar pula itu sehingga negeri Fuk untuk kedua kalinya diserang Zuglag dengan segala asykarnya itu yang diakhiri dengan perkawinannya dengan Abdurahman Uray itu.

Maka Khaleda Bathar bersama ibunya dibawa naik haji oleh suaminya itu dengan menaik kereta yang ditarik empat belas ekor kuda. Maka apakala ia pulang bertunai haji itu maharaja Turki pun mengangkat Abdurahman Uray sebagai sultan untuk daerah Fuk dan Lar.
Maka memerintahlah ia dengan adil dan bijaksana lalu negeripun aman sentausalah.

[+/-] Selengkapnya...

04 April 2008

T-Shirt PTI




Yang berminat untuk mendapatkan T-Shirt PTI silakan menghubungi lanah masing-masing, insya Allah sekitar 2 pekan lagi sudah tersedia dan harga Rp.60.000,-


[+/-] Selengkapnya...

Hikayat Anwar Shin

Syahdan adalah Moslem Nha orang Kethi itu pernah berceritera kepadaku, katanya: “Adalah Anwar Shin apakala tengah tidur tiadalah seorang yang berani menjagakan dia.”
Maka adalah pada suatu malam masuklah seorang pencuri kerumahnya itu dengan membawa tombak, pencuri itu sepekan lalu pernah tertanggap Anwar Shin tatkala pencuri itu mengambil dua ekor biri-biri kepunyaan Anwar Shin itu, tetapi pencuri itu meminta ampun kepadanya lalu dilepaskanya pencuri itu ia beri seekor biri-biri yang ia curi itu.

Syahdan ketika ujung tombak itu menyilainya hendak menusuk hulu hati Anwar Shin itu, iapun cepat berpelewat dan matanya tetap terpejam, patahlah mata tombak itu sanya mata tombak itu besi beracun ular Tsulakeng maka patahan mata tombak itu melukai tangan pencuri sendiri, sepekan kemudian ia mati dan bangkainya ditemukan dipadang rumput tengah dikerubungi beberapa ekor serigala.


Maka pada suatu hari seekor biri-biri kepunyaannya itu dimakan serigala lalu dikejarnya kelompok serigala itu dua ekor serigala ditangkapnya kanan kiri dan dihempaskannya akan tanah sehingga mati seketika.

Maka ilmu yang ia dapatkan itu kala ia bekerja dilanah Thifan lanah Tsyuzi, ia selalu memperhatikan orang berlatih, manakala ia pulang dikajinya ilmu itu dengan tekun, maka menjadilah ia seorang ahli Thifan yang tiada sepatah hurufpun ia hafal.

[+/-] Selengkapnya...

Hikayat Ismet Kitti

Maka adalah menurut sahibul hikayat Tugrilbeg adalah seanak suku Saldsyuk ia masuk Baghdad lalu ia dieluk Khelif al Qaim, maka Tughrilbeg membebaskan Khelif dari kawasan buahi Syi’ah itu, ia pernah merebut seluruh Persi, tanahlemabah Furat-Dajlah, Syam dan kawasan barat, maka al Qaim mengangkat Tugrilbeg sebagai sultan segala kuasapun jatuhlah ketangannya.

Maka adalah Ismet Kitti pun seorang Saldsyuk ia pula mejadi penghulu sepasukan Tugrilbeg itu.


Maka Ismet Kitti pun lepas lanah itu pernah bersanggah beratus orang Kathay dengan tangan kosong ketika ia akan menghadap Tughrulbeg itu, ia berangkat dari daerah Sanyu kota sempadan Cina dan kawasan Turki Timur itu dan dalam perjalanannya itupun ditegahnya oleh perampuk suku Dung lakuran daerah Cina dan Hun itu, lalu lepaslah ia dari perkelahian itu dan adalah beberapa orang perampuk itu terkapar bemandi darah.
Maka Ismet Kitti pun pernah dipanah orang dari belakang kepalanya ketika ia naik kuda dengan capat panah itu diapaknya dan dipatahkannya lalu ia hunus keway dan dilemparkannya keway itu dengan tiada menoleh musuhnya itu, maka musuh itupun tiadalah berbangkit kembali dan hulu hati terpanggag keway itu.
Maka adalah Ismet Kitti itu engkaji Shurulkhan kuna dikajinya ilmu perkelahian itu dalam-dalam, hanya ia tidak empunya tamid.

Maka adalah seorang asykar memfitnah dia sehingga ia dipenjarakan lalu diusirnya, maka ia pernah menjadi asykar kesultanan Turuk Bathar tetapi iapun difitnah orang ia dituduh berkeinginan akan seorang gadis yang dipinang anak Sultan lalu Ismet dihadapkan pada qadli dan dicambuk lalu di usirnya.

Maka adalah Ismet Kitti pun pergi meninggalkan negeri itu menjadi seorang pedagang permata lalu seorang perempuan kaya memfitnahnya ia dituduhkan ada membeli permata curian kepunyaan perempuan kaya itu dan Ismet Kitti bersumpah tiadalah hendak berniaga permata kembali lalu ia pergi dan bekerja pada seorang tuan tanah yang kurang senonoh dalam segala lakunya itu, pada ketika ada perselisihan antara tuan tanah dengan seorang bangsawan maka Ismet Kitti disuruh membunuh bangsawan itu tengah malam dengan pisau beracun, maka Ismetpun pernah meninggalkan orang kaya tuan tanah itu; maka fitnah pulalah ia bahwa dialah katanya yang merencanakan pembunuhan itu sehingga ia hendak ditangkap oleh beberapa orang asykar tetapi akhirnya hilanglah kesabaran Ismet Kitti itu dan segala asykar itupun tiadalah berdaya menghadapinya.
Maka Ismet Kitti pulang kampung halamannya itu ia menikah dengan seorang gadis dan akhir kehidupannya termasuk bahagia.

[+/-] Selengkapnya...

Hikayat Ukhan

Syahdan di padang rumput pada masa pagi-pagi itu Ukhan pun keluar lepas lanah, ia selesai menuntut kaji ilmu dari lanah itu.

Maka tatkala orang tuanya itu bertanyalah peri ilmu yang ia kaji itu, maka berceriteralah Ukhan, katanya: “Sanya aku diajar ilmu Islam dan ilmu turgul maka ilmu Islam itu diajarkan ahund kepadaku dan ilmu turgul itu diajarkan sokh kepadaku, ahundku bernama Mokhtar Beg dan sohkku bernama Tsakhu Yakhu maka adalah kepandaian ahundku itu tak tertara maka ia hafal akan Al-Qur’an dengan tiada berbaca kitab, maka iapun hafal hadits-hadits nabi lebih seribu kiranya, ia ajarkan fikhi dan guruku pernah menuntut ilmu itu di tanah jauh pernah di Damsyiq, pernah di Asqalan, pernah di Isfahan, pernah di Bagdad dan dikajinya segala kitab Ibin Hazmin itu sehingga banyak dikatakan orang ada menyimpang tetapi sanya ia seorang ahund yang shalih dan terlalu amat tekun.
Maka apakala aku diajar ilmu turgul itu maka ahund duduk memperhatikan sokh mendidik tamid itu dan ia sering tersenyum dan menegur seorang tamid baharu yang tiada tekun berlatih itu.


Maka aku memilih Taesyukhan Syufu sebagai ilmu turgul itu maka di lanah itu aku dilatih ilmu Syufu itu apakala aku telah hafal Al-Qur’an dan kawanku memilih Orluq Taesyukhan.

Maka diajarkanya ilmu itu akan semua tamid pada dini hari apakala selesailah bertahajud lalu apakala adzanpun bergema akupun shalat shubuh berjama’ah lalu mengkaji ilmu syara lalu apakala siangpun dating aku berlatih kembali sampai matahari naik dan apakala matahari telah condong berhentilah jeda. Maka pada petang hari aku mengkaji pelbagai kitab berbahasa Arab lalu ahund terjemahkan apa yang tiada kumengerti dengan bahasa parsi lalu ia terjemahkan kedalam bahasa kita itu, aku disuruhnya menghafal apakala aku mengantuk atau kurang simak maka seorang wakil guru itu mencambukku sehingga aku sadar kembali.

Maka ketika lepaslah aku segala ilmu dalam lanah itu telah dikajikan kepadaku dan sanya bukan aku berarti habis tuntut ilmu itu hanya aku selesai pada sempadan ilmu dalam lanah itu, maka aku diuji segala ilmu syara yang pernah terkaji lalu kecekatan berkuda, bermain pedang, toya, dan segala persenjataan itu lalu aku disuruh keluar melalui pintu dan pintu itu terjaga dengan dua bilah pedang besar bergerak bersambungan maka aku selamat melalui pintu itu hanya bajuku sedikit koyak.

Maka guruku pernah berpesan manakala aku hendak melepas lanah itu, katanya: “Ho tsi wakp in Taesyukhan suy u’loq nunk jzi avlay lakin yun shit kotli uqnie avluq munafiqin’r tawli ant saytsyu nie kufan wats Allah subhana wat ‘ala”. Yang artinya: “Kami wakapkan Taesyukhan dan tidaklah kami hadiahkan karena takutlah menjadi milik pribadi lalu jatuh pada tangan munafiqin yang merupakan musuh dalam selimut semoga Allah SWT menjadi saksi wakap ini”.

Adalah aku pernah berlatih berjalan kaki dari tanah Wigu ke tanah Samarkand aku berangkat dari negeri Uremci pada masa lepas shubuh, maka kiranya ada berjarak seribu dua ratus mil.

Maka di tanah Wigu aku bersuah ziarah ke tempat segala guru dan sokh terkenal dan pernahlah aku berkunjung pada guru Ma Zen Ung dan guru itu pernahlah berkirim surat akan guruku dan jawaban surat itu kusampaikan kembali dengan naik kuda dan perjalanan itu ada empat hari tiga malam dan dalam perjalanan itu aku pernah terlibat perkelahian dengan sekawan penyamun suku Hun, lalu kutundukan mereka lalu kusampaikan pula surat jawaban akan guru Ma Zen Ung, maka Ma Zen Ung tampak tertawa membaca surat itu dan ia menyambutku sepantun anaknya sendiri lalu isi surat itu ia terjamahkan kepadaku dan isi surat itupun bersangkut akan kewakapan ilmu Taesyukhan itu. Maka apakala hendak pulang aku diberinya bekal dan aku diberinya pula sebuah kitab Al-Qur’an yang ia tulis sendiri lalu empat orang tamid mengantarkan aku sampai ke perbatasan.

Maka aku pernahlah mengucapkan baiat di lanah itu dan diucapkan bersama apakala fajar pertama, baiah itu berbunyi:
1.Sentsi ni Allah serketi – Aku tidak akan menyekutukan Allah.
2.Tsuki layt fga nuoq hu fu Allah zhiek in – Aku akan menjalankan perintah Allah itu dan menjauhi laranganNya.
3.Hodzi tul amar ma’ruf nahi munkar – Aku akan selalu amar ma’ruf dan nahi munkar.
4.Sekyi wolt tsi ruol zhin kha ilm intz – Tidaklah aku bertekebur dan tiadalah aku putus mencahari ilmu.
5.Sodsyi yo khaf fu nu tuyuk Islam ke – Aku akan selalu waspada terhadap musuh-musuh Islam itu.
6.Noshin tsyud int cziu fznk kefe – Tidaklah aku helak menganut faham-faham kafir.
7.Noh uatz zhin fa dar-i-Islam sekyi astizha syug bagluk Islam syart – Bercita aku mendirikan negeri berhukum Islam demi terlaksana hukum Islam itu dalam segala bidang.
8.Ghu layt fa nit e Kumf wa Taesyukhan jzi kefe – Tidaklah aku akan ajarkan Kumfu Taesyukhan itu kepada kafir.
9.Son-ji re sdyu ittu’ khuerefe, bede’et syar ibadat – Tidaklah aku hendak masukan unsur-unsur segala khurafat, takhayul perusak akidah, ibadat.
10.Sukdsyi ul puag nha tse ut ahebiye’hn – Tidaklah akan aku masukan dan tidaklah aku menganut faham kebangsaan.

Maka dalam lanah itu aku berkawan dengan anak-anak Teyli, Wigu, Cina, Fatan, Turki, Uzbeg, dan banyak ragam suku-suku itu.

Maka apakala ada suatu perselisihan maka gurupun melerai dan menasehatiku dan katanya: “Tidaklah ada kelebihan suku dan suku kecuali akan hal takwa”.
Alkisah adalah Ukhan itu tiadalah mahu bekerja kepada khan dan khanpun kurang suka kepadanya karena ia dianggap kepala batu, ia lebih suka berniaga dan lepas berniaga ia mendidik beberapa orang tamid dari keluarganya dan tiadalah ia turunkan ilmunya itu kepada orang lain.

Maka ia pernah difitnah dan pembesar negeri hendak menangkap dia karena dianggap sebagai perusuh tetapi Ukhan pergi untuk sementara meninggalkan negeri itu masuk kawasan Gazni.

Maka Ukhan itu bersuku Doghan sukunya itu pernah ikut menjadi asykar Zenghizkhan dan Kubilai Khan lalu seorang pimpinan suku itu pernah diangkat wazir pada masa pemerintahan Kubilai Khan.

Maka Ukhan terkenal kepandaiannya dalam ilmu Syufu itu, manakala ia memukul lawan seperempat saja maka serasa hancurlah tuhuh lawan itu, iapun biasa mengatur pukulan panas dan pukulan dingin, seorang kena pukulannya itu pernah sakit sampai tiga tahun empat bulan.

Maka lompatannyapun tinggi, ia pernah perang di atas atap menghadapi serangan bangsa Urkit itu. Maka apakala ia terlalu tua ia menjadi guru lanah iapun dipanggil pula ahund karena mengajar pula dalam seluk beluk ilmu Islam itu. Maka akhirnya Ukhan turun memerangi orang Lama dan ia meninggal setelah kira seratus orang dibunuhnya, tubuhnya luka-luka usia Ukhan pada masa itu sekira lebih seratus dua puluh lima tahun, kemenangan pada suku Muslim lalu sebagian daerah orang lama masuk kesultanan

[+/-] Selengkapnya...